Keterbatasan fisik tidak
menghalangi Taufiq Effendi mewujudkan cita-cita setinggi langit. Bagi
pria yang mengalami kebutaan sejak SMA ini, cita-cita seorang tunanetra
tak sebatas memijat saja. Bagi Taufiq, mimpi itu seperti kompas yang
mengarahkan masa depannya.
“Tapi semua orang kan beda-beda
impiannya, enggak semua ingin jadi pengajar, enggak semua ingin jadi
tukang pijat,” kata Taufiq saat menjadi tamu di acara Indonesia Morning
Show NET.
Menjadi tukang pijat bukan pekerjaan
hina. Pekerjaan itu juga halal. Tapi Taufiq punya jalan lain untuk
meniti hidupnya agar lebih baik. Demi mewujudkan cita-cita itu, ia tekun
sekolah. Tak mengenal menyerah, meskipun rintangan kerap ia temukan.
Pria kelahiran Bandung, 5 Juni 1982 ini,
mengalami kebutaan setelah mengalami kecelakaan saat SMA. Saat itu, ia
terpaksa putus sekolah. Sempat terpuruk, tetapi kemudian bangkit dan
melanjutkan pendidikan. Demi mewujudkan bercita-cita sebagai guru bahasa
Inggris.
Ia kemudian melanjutkan sekolah di SMA
YPI 45 Bekasi. Di situlah ia menemukan arti penting membaca. Ia harus
menguasai huruf braile. Mengenal braile menjadi syarat dasar untuk
memahami teknologi komputer. Usaha kerasnya belajar agar lolos seleksi
perguruan tinggi negeri membuahkan hasil.
Pada 2003, ia diterima di jurusan
Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Jakarta (UNJ. Di kampus
ini juga ia masih memakai braile. Namun jumlah buku kuliah dalam huruf
braile terbatas. Ia kemudian mulai menggunakan buku yang dikasetkan
secara manual atau direkamkan orang lain.
Minimnya jumlah buku braile menjadi
kendala utama di awal kuliah. Selain itu, lingkungan di Jakarta masih
kurang ramah dengan kaum difabel. Berbeda dengan kultur di kota
kelahirannya, yakni Bandung, masyarakatnya sudah terbiasa membantu
tunanetra lewat jejaring relawan.
“Di tahun pertama saya sempat frustasi,
tadinya mau pindah ke Bandung ke UPI. Karena budayanya berbeda. Di
Jakarta, saya cukup lama untuk bisa punya ikatan persahabatan,”
tuturnya.
Kondisi Taufiq mulai berubah setelah
setahun menjalani kuliah, ia bersyukur bisa mengatasi kendala. Seolah
ingin sama dengan yang lain, suami dari Ita Yunita ini kemudian aktif di
BEM. Dari situ pergaulan mulai terbuka. Banyak teman-temannya yang mau
membuatkan rekaman buku.
“Dulu kan belum ada teknologi, saya masih dibacain, direkamin teman.
Terus pas mau ujian, ada teman yang punya kebiasaan kalau belajar di
suarakan. Saya nebeng belajar di sebelah dia,” kenangnya.
Selama 3,5 tahun ia berhasil
menyelesaikan kuliah dengan predikat Cum Laude. Ia juga tercatat sebagai
wisudawan terbaik UNJ. Tak hanya itu, ia berhasil mendapatkan sejumlah
beasiswa ke luar negeri. Hebatnya, semua beasiswa itu ia dapat dengan
prosedur formal, tanpa bantuan atau keringanan dari pemberi beasiswa.
Beasiswa pertama ia dapat dari Jepang.
Selesai belajar di Jepang, ia kembali mendapat beasiswa dari Korea
Selatan untuk skripsinya. Setelah itu, ia mendapat beasiswa S2 untuk
Ilmu Kajian Budaya di Aga Khan University London, Inggris. Lalu pada
2011, dua kali ia mengikuti program pelatihan Bahasa Inggris di Amerika
Serikat.
Beasiswa penuh ia dapatkan dari
Australian Development Scholarship. Lewat program ini, ia menyelesaikan
dua program di University of New South Wales. Lewat berbagai beasiswa,
ia bisa mewujudkan cita-citanya mengajar dan keliling dunia.
Semua ia dapat berkat peran orang
tuanya. Ia pun mendedikasikan sejumlah prestasi yang diraih untuk orang
tua tercinta. Kini selain mengajar di UNJ, Taufiq juga menjadi seorang
motivator. Di sela-sela kesibukkanya, sesekali ia juga meluangkan waktu
untuk bermain musik.
“Ibu bapak saya kebetulan guru. Barang kali itu penggerak hati saya jadi pengajar,” tutup Taufiq.
NET INDONESIA MORNING SHOW
